Monday, October 03, 2005

Kisah pohon mangga

Ada sebatang pohon mangga.
Daunnya rimbun, sarat berbuah sepanjang tahun.
Seorang anak kecil sangat senang bermain
di pohon mangga setiap harinya.
Memanjat ke puncak pohon, merayap ke dahan, dan memetik buahnya.
Kemudian meluncur turun bersandar di batang pohon dan
terlelap dalam kesejukan naungan daun yang rimbun.
Ia mencintai pohon mangga itu dan demikian pula pohon mangga itu kepadanya.

Waktu berlalu dengan cepatnya.
Anak kecil itu tumbuh menjadi remaja.
Dia tidak lagi suka bermain-main dan
tentunya jarang mendatangi pohon
mangga itu.

Sampai suatu hari si remaja menghampiri
pohon mangga dengan wajah muram.
Pohon mangga menyambutnya dengan gembira:
"Mari bermain seperti dahulu".
"Saya bukan anak-anak lagi, saya sudah remaja,
sudah tidak senang bermain".
"Lalu apa masalahmu.
Katakanlah, mungkin saya dapat menolongmu,
" pohon mangga membujuk.
"Begini, saya ingin mempunyai kecapi yang merdu
untuk menghibur kekasihku,"
si remaja ini mengutarakan kemusykilannya.

"Oh, itu mudah, petiklah buahku,
kemudian juallah untuk memperoleh uang.
Maka engkau dapat membeli kecapi yang merdu".

Si remaja itu bangkit semangatnya.
Dipetiknya buah mangga itu sampai tak bersisa.
Pohon mangga tampak gembira, karena telah mengeluarkan
siremaja itu dari kesusahannya.

Suatu hari remaja itu datang lagi ke pohon mangga.
Bergembiralah pohon mangga memanggilnya untuk bermain.
"Saya tidak punya waktu untuk bermain, saya telah dewasa,
telah beristeri," ujar remaja yang telah dewasa itu.
"Lalu kesulitan apa pula, boleh jadi saya dapat menolongmu lagi,"
kata pohon mangga.
"Begini, saya membutuhkan rumah tempat tinggal".

Belum sempat pemuda dewasa itu mengakhiri kalimatnya,
pohon mangga menyela,
"O, mudah pangkaslah semua dahan, dan cabang batangku,
cukuplah itu untuk mendirikan rumah."
Pemuda itu lalu memangkas.
Maka tinggallah pohon mangga seperti tonggak,
hanya batang tanpa dahan, cabang, ranting bahkan daun.
Tumbuh tidak, matipun tidak.

Waktu berlalu,
datanglah si pemuda itu ke pohon mangga yang sudah
menjadi tonggak.
"Boleh jadi inilah yang terakhir saya minta nasihat kepadamu.
Saya sudah menjelang manula.
Aku ingin menikmati hari tua,
berlayar di danau.
Bagaimana mungkin saya mendapatkan perahu,?"

"Tebanglah batangku pada pangkalnya,
buatlah perahu", kata akhir pohon mangga.

Kini pohon mangga yang dahulu berdaun rimbun, berbuah lebat,
hanya tinggal akar-akarnya saja yang tersembul sedikit di atas tanah.

Musim dan tahun berganti.
Laki-laki yang sudah tua renta itupun datang kembali.
Yang diinginkannya hanya sekedar melabuhkan dirinya
berbantalkan akar pohon mangga.

Pohon mangga ibarat kedua orang tua kita.
Ketika kecil kita senang bermain dengan mereka.
Tatkala dewasa, kita tinggalkan beliau berdua,
hanya datang bila dianggap perlu.
Padahal bagaimanapun keadaan mereka,
orang tua tetap akan memberikan segalanya kepada kita.
Selayaknyalah kita mendoakan kedua orang tua kita.

1 comment:

Anonymous said...

Just thought I'd let you know about a site where you can make over $800 a month in extra income. Go to this site   MAKE MONEY NOW  and put in your zip code..... up will pop several places where you can get paid to secret shop, take surveys, etc.  It's free.  I found several and I live in a small town!